Rabu, 02 Januari 2013

TEMPE KACANG PANJANG




TEMPE DARI  KACANG PANJANG


BAB I
PENDAHULUAN  

A.    Latar Belakang
Kacang-kacangan adalah salah satu bahan pangan potensial. Bahan pangan tersebut beserta produk olahannya sangat mudah di jumpai di mana-mana. Bahkan, hampir setiap hari orang mengonsumsinya. Kacang-kacangan merupakan bahan makanan yang murah dan mudah di dapat seperti buncis, kacang merah, kacang polong, atau kacang kedelai.
Tempe merupakan makanan yang dibuat dari proses fermentasi. Fermentasi tempe merupakan salah satu bentuk penerapan ilmu mikrobiologi tradisional yang ada di Indonesia. Tempe yang banyak dikenal adalah tempe yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai atau beberapa bahan lain yang menggunakan beberapa jenis kapang Rhizopus, seperti Rhizopus oligosporus, dan. stolonifer (kapang roti). Sehingga membentuk padatan kompak berwarna putih. Sediaan fermentasi ini secara umum dikenal sebagai “ragi tempe”. Pada  dasarnya  proses  pembuatan  tempe  merupakan proses penanaman mikroba  jenis jamur Rhizopus sp pada media  kedelai,  sehingga  terjadi  proses  fermentasi  kedelai oleh  ragi  tersebut. Hasil  fermentasi menyebabkan  tekstur kedelai  menjadi  lebih  lunak,  terurainya  protein  yang terkandung  dalam  kedelai  menjadi  lebih  sederhana, sehingga mempunyai daya cerna  lebih baik dibandingkan produk  pangan  dari  kedelai  yang  tidak  melalui  proses fermentasi.
Di Indonesia, jarang sekali temukan tempe yang terbuat selain dari  kacang kedelai. Padahal jenis kacang-kacangan lainnya juga bisa dijadikan bahan untuk pembuatan tempe jika gizinya cukup menunjang proses fermentasi tempe seperti biji kacang panjang, biji kacang panjang juga memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi.
 Persen Nilai Harian berdasarkan Diet 2000 Kalori Nilai Harian Individu bisa lebih tinggi atau lebih rendah tergantung pada kebutuhan kalori masing-masing. Biji kacang panjang adalah sumber protein yang baik, vitamin A, thiamin, riboflavin, besi, fosfor, kalium, Vitamin C, Folat, Magnesium dan mangan. Dalam Ukuran Porsi 100 Gram Kacang Terdapat 47 Kalori, 0 Gram Lemak Total, Kolesterol 0 Mg, Natrium 4 Mg (0% Nilai Harian), 8 gram karbohidrat total (2% Nilai Harian), dan 3 gram protein (Nilai Harian 5%). Ada Juga 17% Vitamin A, 2% Besi, 31% Vitamin C dan 5% Kalsium (Handri and Rafira, 2003).
Cara mengolah biji kacang panjang menjadi tempe sama halnya dengan mengolah biji kedelai menjadi tempe, yaitu dimulai dari tahapan pensortiran, pencucian pertama, perendaman, pengupasan, pencucian kedua, perebusan, peragian dengan ragi tempe, pembungkusan dan penyimpanan.

B.     Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut, yaitu:
1.      Apakah biji kacang panjang bisa menjadi produk fermentasi ?
2.      Bagaimana cara mengolah biji kacang panjang menjadi produk fermentasi?

C.    Solusi / Alternatif Pemecahan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah di atas dapat ditentukan solusi/alternatif pemecahan masalah sebagai berikut:
1.      Biji kacang panjang dapat buat menjadi produk fermentasi seperti tempe. Karena biji  Kacang Panjang merupakan salah satu jenis kacang-kacangan yang mempunyai kandungan gizi yang tidak kalah tingginya dengan kacang kedelai. Dalam ukuran porsi 100 gram kacang terdapat 47 kalori, 0 gram lemak total, kolesterol 0 mg, natrium 4 mg (0% nilai harian), 8 gram karbohidrat total (2% nilai harian), dan 3 gram protein (nilai harian 5%). Ada juga 17% vitamin A, 2% besi, 31% vitamin C, dan 5% kalsium.
2.      Dari beberapa solusi di atas kami memilih produk tempe degan bahan bakunya biji kacang Panjang. Di samping itu juga biji kacang Panjang masih belum dimanfaatkan oleh masyarakat luas dalam untuk membuat tempe yang biasanya hanya di buat sayur. Oleh karena itu kami terdorong melakukan kegiatan membuat tempe dari biji kacang Panjang. Kapamg  yang berperan dalam pembuatan tempe ini adalah Rhizopus oligosporus, dan. Stolonifer.

D.    Tujuan Penelitian
Dalam kegiatan ini bertujuan:
1.      Untuk mengetahui cara mengolah biji kacang kacangan menjadi produk fermentasi.
2.      Untuk mengetahui kandungan gizi biji kacang panjang yang dijadikan produk fermentasi.
3.      Untuk mengetahui cara pembuatan tempe dari biji kacang panjang.

E.     Jadwal Pelaksanaan Kegiatan
Pembuatan tempe ini dilaksanakan dengan 2 kali percobaan. Pada percobaan 1 tanggal 2 Januari 2012 dan percobaan kedua tanggal 16 Januari 2012.
1.      Hari Pertama
Pada hari pertama ini dilakukan langkah – langkah : Pensortiran, pencucian, perendaman, perebusan, pengupasan kulit biji kacang panjang dan pendinginan.
2.      Hari Kedua
Pada tahap selanjutnya melakukan peragian, pembungkusan, penyimpanan selama 3 hari







F.     Rincian Biaya

No
Bahan
Harga (Rp)
1
2
3
4
5
Biji kacang panjang(1/2 Kg)
Ragi Tempe (5 gr)
Minyak Tanah (1 Liter)
Daun Pisang (1 Ikat)
Plastik
3000
2000
7000
2000
3000
              Total                                                17.000
















BAB II
METODELOGI PENELITIAN

A.    Alat Dan Bahan
1.      Alat
Alat-alat yang digunakan dalam pembuatan tempe adalah sebagai berikut:
a.       Panci
b.      Kompor
c.       Mangkok Kecil
d.      Sendok
e.       Nyiru
f.       Baskom
g.      Penyaring
h.      Daun pisang/plastik
i.        Jarum
2.      Bahan
Bahan yang digunakan dalam pembuatan tempe adalah:
a.     Biji kacang pajang (1/2 Kg)
b.    Ragi tempe (5 gr/setengah kg bahan)
c.     Air
d.    Minyak tanah
B.     Cara kerja
1.      Pensotiran: memilih biji kacang panjang yang bagus dan membuang kotoran-kotorannya biar bersih. Biji  Kacang panjang yang dipilih adalah biji kacang panjang yang mulus, tidak memar dan kulitnya tidak keriput, karena faktor keberhasilan fermentasi sangat ditentukan oleh jenis bahan pangan (substrat).


2.      Pencucian pertama : Mencuci kacang hijau dengan air       mengalir hingga bersih, agar  kotoran –kotoran yang masih menepel ikut mengalir dengan air tersebut

3.      Perendaman : merendam biji kacang panjang kurang lebih 12 jam, Biji kacang panjang  direndam untuk hidrasi biji kacang panjang  dan membiarkan terjadinya fermentasi asam laktat secara alami agar diperoleh keasaman yang dibutuhkan untuk pertumbuhan fungi.


4.      Perebusan : Kacang panjang direbus menggunakan panci selama kurang lebih 1 jam  dengan tujuan untuk mempermudah proses pengelupasan kulit biji kacang panjang dengan tekstur biji yang tidak terlalu matang.

5.      Pengupasan : mengupas kulit dari biji kacang panjang. Kulit biji kacang panjang dikupas agar miselium fungi dapat menembus biji kacang panjang selama proses fermentasi.

6.      Pencucian ke 2: mencuci biji kacang panjang yang sudah direndam dan dikupas. Proses pencucian kedua dilakukan untuk menghilangkan kotoran yang mungkin dibentuk oleh bakteri asam laktat dan agar kulit kacang panjang tidak terlalu asam.


7.      Pendinginan : Mendinginkan bahan yang sudah direbus sehingga menjadi sedikit kering , agar air yang berlebihan dapat dihindari, karna air yang berlebihan dapat menghambat pertumbuhan kapang


8.      Peragian : Kacang hijau diberi ragi tempe dengan takaran sekitar 5 gr  sehingga proses fermentasi akan berlangsung

9.      Pembungkusan: membungkus biji kacang panjang yang sudah dicampur dengan ragi tempe dengan menggunakan plastic dan daun pisang dengan ukuran 10x20 cm untuk memudahkan ragi melakukan proes fermentasi karna proses fermentasi berlangsung secara anaerob dilubang-lubangi dengan menggunakan jarum dengan jarak 3 cm secara vertikal dan horizontal. Tujuannya agar udara bisa masuk ke dalam plastik selama proses fermentasi berlangsung




10.  Penyimpanan: menyimpan biji kacang pajang yang sudah dibungkus dan dibiarkan untuk mengalami proses fermentasi kurang lebih selama 3 hari. Selama proses penyimpanan tersebut, terjadi pertumbuhan miselium kapang yang merekatkan biji-biji kacang panjang sehingga terbentuk tekstur yang memadat serta menyebabkan tempe yang terbentuk berwarna putih.



DIAGRAM ALIR

Pensortiran
Perendaman
Pengupasan
Tempe

Penyimpanan
Perebusan
Pencucian Ke 1
 











Pembungkusan
                               
Peragian
Pencucian ke 2
Pendinginan
 















BAB III
HASIL PENGAMATAN

A. Uji Organoleptik Percobaan 1

1.      Pada daun pisang

Hari

Rasa

Aroma

Warna

Tekstur

Gambar

1

_

-

-

Lunak

 

2

_

Tidak ada bau

Putih kecoklatan

Agak keras

 

3

Ada rasa kacang panjangnya

Tidak Ada bau busuk

Putih pucat

Keras

 

2.      Pada plastik

Hari

Rasa

Aroma

Warna

Tekstur

Gambar

1

_

-

-

Lunak

 

2

_

Ada bau tidak sedap

Putih kecoklatan

Agak lunak

 

3

Rasa tidak layak tuk dimakan

Bau tidak sedap semakin terasa

Coklat pucat

Lembek sekali dan berair

              


B.   Uji Organoleptik Percobaan ke 2

Pada plastic saja

Hari

Rasa

Aroma

Warna

Tekstur

Gambar

1

_

-

-

Lunak

 

2

_

Tidak ada bau

Putih kecoklatan

Agak keras

 

3

Tidak baik dimakan

bau tidak sedap

Coklat pucat

Lembek dan berair









BAB IV
PEMBAHASAN

                 Pada praktikum dilakukan fermentasi  pada pembuatan tempe. Fermentasi adalah proses produksi energy dalam sel dalam keadaan anaerob (tanpa oksigen). Melalui proses fermentasi kacang panjang menjadi lebih enak dan meningkat nilai nutrisinya. Tempe dapat dibuat dari berbagai bahan, akan tetapi pada paraktikum di buat dari kacang panjang. Bahan utama pembuatan tempe  terdiri dari  air, kacang panjang dan ragi tempe. Syarat mutu kacang panjang untuk memproduksi tempe tahu kualitas pertama adalah sebagai berikut : a). Bebas dari sisa tanaman seperti kulit palang, potongan batang atau ranting, batu, kerikil, tanah atau biji-bijian. b) Biji kacang panjang tidak luka atau bebas serangan hama dan penyakit. c) Biji kacang panjang tidak memar. d) Kulit biji tidak keriput.
     Tempe adalah makanan hasil fermentasi di buat dari kacang-kacangan yang diinokulasi dengan jamur Rhizopus Oligosporus sehingga membentuk padatan kompak yang berwarna putih. Fermentasi tempe mampu menghilangkan zar-zat yang tidak diinginkan yang terdapat pada kacang panjang. Proses pembuatan tempe meliputi pemilihan kacang panjang, penimbangan, perendaman, pengupasan kulit ari, pencician, pengukusan, penirisan, inokulasi,pengemasan,  fermentasi, dan pemanenan.
     Proses pembuatan tempe melibatkan tiga faktor pendukung, yaitu bahan baku  yang  dipakai  (kacang panjang),  mikroorganisme  (kapang tempe),  dan  keadaan  lingkungan  (suhu,  pH,  dan kelembaban).  Proses  ini  terdiri  atas  dua  tahap,  yaitu  tahap persiapan dan tahap pengolahan. 
a.  Tahap Persiapan
1.  Persiapan ragi                     
            Ragi  tempe  sebenarnya  adalah  kumpulan  spora  jamur yang  tumbuh di atas  tempe. Jamur  tersebut umumnya terdiri  atas  empat  jenis,  yaitu:  Rhyzopus  olligosporus, Rhyzopus  stolonifer, Rhyzopus arrhizus, dan Rhyzopus oryzae.  Oleh  karena  itu,  bahan  utama  dalam pembuatan ragi tempe adalah tempe itu sendiri
2.  Penyiapan bahan baku
            Tahap  ini  meliputi:  pembersihan  (sortasi)  kacang panjang, pencucian,  perendaman  kacang panjang  selama  6-12  jam  agar kedelai mengalami  pemekaran,  dan  pencucian  kembali serta  diakhiri  dengan  penirisan,  sehingga  dihasilkan kacang panjang basah siap pakai.

b.  Tahap Pengolahan
                 Pada  dasarnya  proses  pembuatan  tempe  merupakan proses penanaman mikroba  jenis  jamur Rhizopus sp pada media kacang panjang,  sehingga  terjadi  proses  fermentasi  kacang panjang oleh  ragi  tersebut. Hasil  fermentasi menyebabkan  tekstur kacang panjang  menjadi  lebih  lunak,  terurainya  protein  yang terkandung  dalam  kacang panjang  menjadi  lebih  sederhana, sehingga mempunyai daya cerna lebih baik dibandingkan produk  pangan  dari kacang panjang yang tidak melalui  proses fermentasi. Masing-masing  langkah  kerja pada pengolahan kedelai menjadi produk tempe yaitu; Perebusan yang bertujuan untuk melunakkan, dilanjutkan dengan perendaman menggunakan air perebusnya  selama 24  jam, yang  bertujuan  untuk menurunkan  derajat  keasaman  kedelai  sehingga dapat ditumbuhi jamur (pH 4-5). Kacang panjang  yang  telah  direndam,  ditiriskan  dan selanjutnya dikupas, dan dicuci beberapa kali hingga kacang panjang tidak berbau asam lagi dan kulit kedelai yang tertinggal sesedikit mungkin.
Air yang digunakan pada setiap tahapan proses harus memenuhi syarat sebagai air minum yaitu jernih, tidak berwarna, tidak berbau dan syarat -syarat lainnya yang sudah ditetapkan dalam standar air minum. Kacang panjang yang kurang bersih dalam pencucian  akan mempengaruhi dalam proses fermentasi , begitupun pada waktu pengupassan kulit ari harus benar-benar terkelupas supaya jamur dapat menutupi pori-pori kacang kedelai Setelah pencucian, dilakaukan perendaman kedelai dalam air bersih. Maksud merendaman ini adalah untuk melunakan struktur sekulernya, mengurangi jumlah enegy yang diperlukan untuk menggilingnya, meningkatkan kecepatan ekstraks. Lamanya perendaman ini bervariasi tergantung pada suhu air, varietas kacang panjang dan umurnya.
Pada praktikum perendaman dilakukan selama 12 jam. Kacang panjang yang telah tersimpan lebih dari 6 bulan, dan yang ukuranaya kecil serata kerasa memerlukan memerlukan waktu perendaman ynag lebih lama, untuk member kesempatan masuknya air kedalam panjan. Perendaman merupakan tahapan yang penting dalam proses pembutan tempe. Dalam pertumbuhan kapang tempe membutuhkan substrat yang asam atau PH rendah kisaran 3.6 dan selam perendama PH air turun dari 6,5 samapi antara 4,5-5,0. Perendaman dimaksudkan menginaktifkan baketri yang tidak diinginkan. Kacang panjang mengandung senyawa rafinosa dan stakiosa yang dapat menyebabkan perut kembung. Namun selamam proses perendaman beberapa bakteri mampu merombak rafinoso dan stakiosa menjadi senyawa yang lebih sederhana, sehingga dapat mencegah terjadinya gangguan pencernaan dan perut kembung
Pada praktikum dilakukan perlakuan yaitu kacang panjang disortir terlebih dahulu sebelum direndam dan dicuci. Setelah itu direndam baru dengan lama 12 jam peerendaman baru kemudian setelah direndam langsung direbus selama 30 menit setelah air mendidih, yaitu sampai sampai ¾ matang. Pada pengukusan kacang panjang jangan telalu matang supaya tidak mudah busuk pada proses fermentasi. Dan jangan terlalu mentah biar tidak keras dan cepat ditumbuhi jamur.  Setelah itu dilakukan Pengupasan kulit ari karena dalam kuit ari tersebut mengandung senyawa anti jamur. Pada pengupasan kulit ari diusahakan keeping biji kacang panjang terpisah karena penetrasi miselium kapanglebih cepat.
Selanjutnya kacang panjang yang telah dikupas dicuci bersih kemudian kacang panjang ditiriskan dan diangin-anginkan biar kadar airnya turun karena dalam keadaan basah jamur tidak dapat menempel pada kacang panjang, akhirya tidak ditumbuhi miselia pada permukaan kacang panjang. Peniriasan dilakuakn agar kelebihan air dapat dihindari, jika air bebas yang tersedia terlalu banyak akan mendorong pertumbuhan bakteri namun bila terlalu sedikit dapat menyebabkan dihirasi pada permukaan kacang panjang sehingga menghambat pertumbuhan kapang. Sedangkan pendinginan dimaksudkan agar suhu kedelai turun sesuai suhu kamar karena bila suhu kacang panjang terlalu teinggi saat inokulasi maka pertumbuhan kapang akan terganggu. Setelah dingin dilakukan inokulasi yaitu pemberian jamur tempe sebanyak 0,5 gram kedelai kering, jenis jamur tempe yang dipakai yaitu Rhizopus Oligosporus sehingga membentuk padatan kompak yang berwarna putih. Dalam proses inokulasi diperlukan tingkat kebersihan yang tinggi, karena pada tahp ini rentan sekali terjadi kontaminasi. Setelah merata kemudian dikemas pada dua kemasan yaitu pada plastic dan daun pisang. Sebelumnya plastic yang digunakan untuk mengemas di beri lubang dengan ditusuk-tusuk menggunakan  jarum  jarak 3 cm secara vertiksl dan horizontal. Tujuannya agar ada udara yang masuk ke dalam selama proses fermentasi berlangsung, karena berdasarkan kebutuhan oksigenya fermentasi tempe termasuk tipe aerob yaitu fermentasi yang pada prosesnnya memerlukan oksigen, semua organism untuk hidupnya memerlukan sumber energy yang diperoleh dari hasil metebolisme bahan pangan dimana organism itu berada.Mikroorganisme adalah organism yang memerlikan energy tersebut. Bahan energy yang paling banyak digunakan mikroorganisme untuk tumbuh adalah glukosa dengan adanya oksigen maka organisme dapat menerima glukosa menghasikan karbondioksida dan sejumlah besar energy.  Syarat kemasan tempe anatara lain: dapat memberian cukup oksigen yang dibutuhkan kapang, dan dapat memungkinkan pengeluaran uap air, sehingga air tidak menempal pada kacang panjang yang dapat mendorong pertumbuhan bakteri kontaminan.
Kacang panjang yang telah di kemas langsung di fermentasi selama 2 hari, disimpan pada suhu kamar 31 C. Fermentasi merupakan tahap terpenting dalam proses pembuatan tempe.  pada tahap fermentasi terjadi penguraian karbohidrat, lemak, protein dan senyawa- senyawalain dalam kacang panjang menjadi molekul-molekul yang lebih kecil sehingga mudah dimanfaatkan tubuh. Pada proses fermentasi kacang panjang menjadi tempe terjadi aktivitas enzim amilolitik, lipolitik dan proteolitik, yang diproduksi oleh kapang Rhizopus oligosporus (Karmini 1996, dalam Yaniex 2009). . Fermentasi dipengaruhi oleh suhu dan konsentari laru, semakin tinggi suhu  fermentasi semakin cepat pertumbuhan kapang namun apabila suhu fermentasi mencapai lebih dari 40 C akan menghambat pertumbuhan kapang.

Pada percobaan pembuatan tempe dari kacang panjang dilakukan dua kali percobaan yaitu percobaan ke-1 dan percobaan ke-2. Pada percobaan pertama didapatkan hasil yang tidak memuaskan yaitu kacang panjang yang diolah menjadi tempe yang di bungkus dengan daun pisang berhasil, dari data yang dilihat di table terdapat tekstur yang keras, warnanya putih pucat, aromanya tidak terdapat bau dan rasanya agak ada rasa kacang panjang. Sedangkan pada tempe yang dibungkus plastic tidak berhasil, diperoleh rasa yang tidak dimakan, aromanya bau, warnanya coklat pucat dan teksturnya lembek sekali dan berair.

Faktor keberhasilan fermentasi sangat ditentukan oleh jenis bahan pangan (subsrat). Mikroba membentuk energy yang berasal dari karbohidrat, protein, lemak, mineral, dan zat-zat gizi lainya yang ada dalam bahan pangan (substrat). Demikian pula dengan macam mikrobanya, yang perlu dimiliki mikroba adalah harus mampu tumbuh pada substrat dan mudah beradaptasi dengan lingkungannya, dan mikroba harus mampu mengeluarkan enzim-enzim penting yang dapat melakukan perubahan yang dikehendaki secara kimiawi.

Perubahan  warna  ini  menunjukkan  adanya  reaksi kimia pada proses inkubasi. Jamur  Rhizopus  sp  tergolong  makhluk  hidup.  Oleh karena  itu  ia  juga melakukan respirasi. Respirasi merupakan reaksi  kimia  atau  perubahan  kimia. 
Pada plastic  penyebab tidak berhasilnya fermentasi tempe karena kesterilan alat dan bahan yang digunakan, ksterilan tangan dari praktikan yang tidak dicuci terlebih dahulu, berbicara ketika melakukan pengupasan dan proses peragian sehingga terkontaminasi dengan masuknya mikroba yang merugikan dan menghambat proses fermentasi. Kemudian pada proses pembungkusan penyebab tidak berhasilnya adalah  kurangnya aerasi. Salah  satu  zat  yang dilepaskan dari peristiwa respirasi adalah gas karbondioksida dan  uap  air.  Uap  air  itulah  yang menyebabkan  permukaan dalam plastik pembungkus tempe basah oleh titik-titik air. Kemudian tidak terlalu kering  pada proses pendinginan,airnya belum jatuh semua sehingga ketika dalam pembungkusan airnya menguap semakin banyak. Pada proses peragian belum meratanya ragi pada kacang panjang dan alat yang digunakan sudah terkontaminasi oleh mikroba lain sehingga mengakibatkan penurunan mutu kacang panjang dan bahkan membuat kegagalan dalam prouksi tempe tersebut.




















BAB IV
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Berdasarkan data hasil percobaan setelah dibahas dapat diambil kesimpulan yaitu:
1.      Kacang panjang dapat dibuat menjadi produk tempe melalui fermentasi
2.      Kacang panjang dapat dibuat menjadi produk tempe melalui fermentasi, dan hanya saja harus ada perlakuan yang lebih tepat untuk menghindari terbentuknya aroma yang busuk
3.      Faktor penyebab tidak berhasilnya tempe yang dibuat adalah ksterilan alat yang digunakan,peragian yang tidak merata, kurangnya aerasi pada saat pembungkusan, pada saat peragian dilakukan dengan cara sambil berbicara 
4.      Setelah melakukan praktikun dapat disimpulkan bahwa pada proses pembuatan tempe dalam proses inokulasi diperlukan tingkat kebersihan yang tinggi, karena pada tahap ini rentan sekali terjadi kontaminasi. Faktor keberhasilan fermentasi sangat ditentukan oleh jenis bahan pangan (subsrat). Demikian pula dengan macam mikrobanya, yang perlu dimiliki mikroba adalah harus mampu tumbuh pada substrat dan mudah beradaptasi dengan lingkungannya

B.  Saran
Dalam pembuatan tempe hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu harus memperhatikan cara pengupasan yang baik, perebusan, inokulum tempe,  aerasi dan kelembaban, ksterilan alat dan bahan, kebersihan tangan yang memegang serta yang paling utama yaitu mengetahui tahapan dalam membuat tempe. Dalam setiap melakukan langkah kerja harus mempunyai dasar ilmiahnya, supaya mengetahui tujuan dasar melakukan setiap langkah kerja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar